My PALESTIN!

My PALESTIN!
.:::Let Us UNITE:::.

Thursday, June 20, 2013

Coming Soon

Assalamu'alaikum wbt.
I'm back for good. ^_^
Just drop by to say "Alhamdulillah, thank you ALLAH swt."






Coming soon, insyaALLAH. Can't wait after all the hardship and endurance. Thank you ALLAH swt.=)







Using only the pictures to illustrate how I feel after all these years of endurance. =)


Next stage to my new life.=)









Can't wait. =D





Have Faith. =j
Another journey will come my way.


Saturday, November 3, 2012

A husband to kill for =)



..“For the first time after 18 years of marriage, she prepared the worst dinner for her husband. The vegetables were over cooked,meat was burned and salad was too salty. At the dinner table, her husband kept silent while he was eating. After that, when she was in kitchen washing dishes He came to her, smile at her and kissed her on her forehead “why is this kiss for?” she asked him not believing what he did. “Tonight your cooking reminded me of your cooking in the first days of our marriage! it reminded me of your cooking as a new bride, so I wanted to treat you as if you are a new bride” ♥

This is the good righteous husband who turn the mistakes of his wife to positive sides in their life together, because the best Muslim man is the one who is best to his wife and should make her feel that she is so special to him :)

Abu Hurairah
narrated that Prophet Muhammad (sallAllahu alaihi wa sallam) said:
“The believers who show the most perfect faith are those who have the best disposition and the best of you are those who are best to their wives.” - Tirmidhi





Friday, October 19, 2012

Kehadapan Ayahanda Yang Dirindui


Assalamu’alaikum wbt,



Kehadapan ayahanda yang tercinta. Sangat hebat duka jiwa anakanda pada malam yang hening ini (255 am, 19 Oktober 2012). Anakanda menulis surat ini dengan penuh linangan air jernih yang mengalir di pipi. Ya ALLAH… Ya ALLAH… Ya ALLAH… anakanda merintih. Malam yang penuh kesedihan ini, tiba-tiba teringat kata-kata sahabat anakanda “Ketentuan ALLAH, mungkin ayahanda mu akan berubah setelah pemergian mu menemui Tuhan yang ESA”. Teresak-esak teringat kata-kata sahabat tadi.

Pelbagai-bagai anakanda dan adik-beradik yang lain harungi dengan sikap ayahanda. Ayahanda adalah kesayangan kami. Cuma kadang terdetik di hati, adakah ayahanda sayang pada kami? Mungkin pada ayahanda, memadai sekiranya “aku bekalkan anak-anak ku cukup dengan keperluan mereka dan menjadi orang yang berjaya, itulah yang setimpal dirasakan padaku kasih sayang yang patutnya diberikan oleh seorang pemimpin keluarga”. Alhamdulillah, pada kami tidak ada kurangnya apa yang ayahanda berikan, InsyaALLAH berpanjangan. Dari segi materialnya, itulah yang dirasakan cukup pada kami. Di segi sudut yang lain pula, kami memandang ada kurangnya. Maaf kiranya, kata-kata berterus terang sebegini membuatkan ayahanda terasa. Pada hakikatnya pandangan kami (terutamanya anakanda) sendiri, itulah apa yang dirasakan. Kalau ingin diluahkan dari kata-kata, ternyata anakanda sangat lemah berbicara dihadapan ayahanda. Diri tersangat risau sekiranya mengguris hati dan perasan seorang insan yang bersusah payah ‘mengasuh’ anak-anaknya sehingga menjadi seperti hari ini.

Anakanda sangat mencuba mendidik diri berbakti pada orang tua, ternyata diri punya kelemahan yang ALLAH selitkan pada setiap penciptaan hambaNYA. Anakanda berpegang, walau macam manapun orang tua mu, merekalah bersusah payah mendidik mu dari kecil hingga dewasa. Tetapi, hati kadang tidak dapat menerima lalu diri menjauh. Sering hati berbisik, mencemburui ayahanda sahabat-sahabat yang lain. Anakanda yang lemah ini sering kali membanding-bandingkan peribadi ayahanda dengan yang lain. Maaf kan diri anakanda wahai ayahanda. Anakanda sering membayangkan ibu, anakanda dan adik-adik yang lain menjadi makmum yang berimamkan ayahanda, ayahanda menjadi guru perbetulkan bacaan Quranul Kareem, berusrah bersama dengan ayahanda, bila anakanda terkeliru dan tersesat; ayahanda tunjukkan anakanda pada jalanNYA dan bila anakanda terjatuh, ayahanda bangkitkan semangat anakanda, bukanlah sebaliknya. Maafkan anakanda sekali lagi ayahanda. Kata-kata ini lah yang lama terpendam. Ingin diluah… tapi…



Kini, anakanda semakin dewasa. Memasuki fasa seterusnya dalam hidup adalah satu perubahan yang banyak dugaan dan cabarannya. Anakanda sangat memerlukan restu ayahanda. Sangat-sangat memerlukan. Bukankah ayahanda yang menjadi wali pada jalan menghalalkan apa yang diharamkanNYA? Tanpa restu dan redha ALLAH (diwakilkan pada ayahanda untuk memutuskannya) siapalah anakanda. Sebagai ayahanda yang ‘mengasuh dan mendidik’ anaknya dari kecil, tentulah terasa sangat berat ayahanda melepaskan anakanda. Ketahuilah ayahanda, ALLAH memberi pelbagai hikmah pada jalan ini.=) Sesungguhnya, bukanlah ayahanda melepaskan tetapi memberi amanah pada yang meminta (dari ayahanda) untuk menanggung beban yang ayahanda tanggung selama ini. Solat lima waktu anakanda, aurat anakanda, nafkah anakanda, secara ringkasnya dialah bertanggungjawab dalam amal ibadah anakanda.=) Wahai ayahanda, lembutkanlah hati mu. Pandanglah dengan mata hati mu. Nescaya ALLAH membuka hati dan minda mu untuk menerima hikmahNYA.amin~

Anakanda tahu dan faham, sebaik melangkah ke fasa hidup yang seterusnya, banyak perubahan yang anakanda akan lalui. Yakinlah wahai ayahanda, anakanda sesungguhnya selalu meminta dalam doa’ anakanda:

“Ya ALLAH, aku ingin berkahwin, ya ALLAH, tetapkanlah untukku lelaki yang mencintaiMu, paling tampan rupa dan akhlaknya, yang paling luas rezekinya, yang paling banyak barakahnya, dan kurniailah aku anak yang baik yang Engkau jadikan ia sebagai kebanggaanku di masa hidupku dan keberhasilan setelah matiku.”.amin ya Robbal'alamin~

dan dalam doa’ juga anakanda meminta agar dikurniakan dia pada anakanda yang memahami tanggungjawab anakanda pada keluarga. InsyaALLAH ayahanda, anakanda yakin akan ketentuanNYA. You can never go wrong when you put your trust to ALLAH. But when something is wrong, it is your trust to ALLAH that went wrong. Anakanda berserah pada ALLAH. Sekali pun ujian datang sesudah anakanda dalam fasa hidup yang baru, bukanlah ketentuanNYA yang anakanda keluhkan, tetapi, amal ibadah anakanda yang harus diperbetulkan. Tawakal’ala ALLAH.

                Ayahanda, ketahuilah, kami sangat sayang ayahanda.=) ALLAH takdirkan ayahanda menjadi imam kami, dan kami menjadi makmum kepada ayahanda. Syukur pada mu Ya ALLAH. Alhamdulillah.





Adds